oleh

Langkah Awal Ridwan Tabara di DLH Konawe, 350 Petugas Jadi Pelopor Pilah Sampah

-Konawe-338 views

SULTRAONE.com.KONAWE — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Konawe mulai mendorong perubahan pola pengelolaan sampah dari lingkungan internal. Tak sekadar mengangkut dan membersihkan sampah, petugas kebersihan kini diarahkan untuk ikut menjadi garda terdepan dalam pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Program tersebut digulirkan pasca Pelantikan Ir. Ridwan Tabara, ST., M.Si.,kembali dipercaya memimpin Bidang Kebersihan, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas DLH Kabupaten Konawe.

Ridwan menyampaikan program itu saat memimpin apel pagi yang diikuti ratusan ASN PPPK dan PPPK Paruh Waktu di halaman Kantor DLH Konawe, Selasa (8/9/2026).

Sebagai langkah awal, program menyasar sekitar 350 staf, khususnya jajaran yang berada di Bidang Kebersihan, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas.

Setiap petugas diberikan target sederhana namun terukur. Masing-masing diwajibkan mengumpulkan sedikitnya 3 kilogram sampah anorganik yang telah dipilah setiap bulan untuk kemudian disetorkan dan ditimbang melalui Bank Sampah Kelurahan Asinua yang berada di kawasan Pasar Asinua.

Jika seluruh target tersebut terealisasi, maka sekitar 1.050 kilogram atau 1,05 ton sampah anorganik berpotensi dikumpulkan setiap bulan.

Angka tersebut menjadi potensi baru dalam upaya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Bukan Sekadar Mengumpulkan Sampah

Ridwan menegaskan, program tersebut tidak dirancang semata-mata untuk mengejar berapa banyak sampah yang berhasil dikumpulkan.

Lebih dari itu, DLH Konawe ingin membentuk kebiasaan baru di kalangan petugas kebersihan agar aktivitas memilah sampah menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari.

“Saya ingin teman-teman kebersihan tidak hanya bertugas mengangkut dan membersihkan sampah, tetapi juga menjadi contoh dalam hal memilah sampah. Minimal setiap bulan tiga kilogram sampah anorganik yang sudah dipilah dikumpulkan dan ditimbang di Bank Sampah Kelurahan Asinua,” ujar Ridwan.

Menurutnya, sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, kaleng dan berbagai material lain yang masih memiliki nilai ekonomis tidak seharusnya langsung berakhir sebagai sampah residu.

Melalui sistem bank sampah, material tersebut dapat dipilah, dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.

Karena itu, pemilahan dari sumber dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi beban sampah yang masuk ke tempat pembuangan.

Menyasar Bank Sampah Kecamatan hingga Kelurahan

Program yang dirancang DLH Konawe tersebut tidak hanya berhenti pada Bank Sampah Kelurahan Asinua.

Ke depan, pola pengelolaan sampah berbasis pemilahan juga diarahkan untuk terhubung dengan Bank Sampah Induk di tingkat kecamatan serta Bank Sampah Unit di kelurahan-kelurahan yang telah terbentuk.

Dengan pola tersebut, sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis diharapkan dapat masuk ke dalam sistem pengelolaan yang lebih terukur.

Ridwan mengatakan, langkah awal memang sengaja dimulai dari internal DLH.

Menurutnya, petugas kebersihan harus terlebih dahulu memberikan contoh sebelum mengajak masyarakat melakukan perubahan perilaku dalam mengelola sampah.

“Kita mulai dari internal dulu. Kalau petugas kebersihan sudah terbiasa memilah dan mengelola sampah dengan benar, saya berharap kebiasaan ini bisa menjadi contoh dan ke depannya bisa ditularkan kepada seluruh ASN di Konawe serta masyarakat,” tegasnya.

Dari 3 Kilogram Menjadi Gerakan Besar

Dengan melibatkan sekitar 350 petugas, target tiga kilogram per orang setiap bulan terlihat sederhana. Namun jika dilakukan secara konsisten, jumlah tersebut dapat menghasilkan lebih dari satu ton sampah anorganik yang berhasil dipilah setiap bulan.

Bagi DLH Konawe, angka tersebut bukan hanya soal volume sampah yang berhasil dikumpulkan.

Program ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa persoalan sampah harus diselesaikan mulai dari sumbernya, bukan hanya ketika sampah sudah menumpuk di TPS maupun TPA.

Ridwan berharap kebiasaan memilah sampah yang dimulai dari lingkungan kerja DLH dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.

“Dari tiga kilogram per orang setiap bulan, DLH Konawe ingin mengubah kebiasaan kecil menjadi gerakan besar pengurangan sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir,” pungkasnya.

Program tersebut sekaligus memperkuat sinergi antara Bidang Kebersihan DLH Konawe dengan jaringan bank sampah yang telah terbentuk di wilayah Kabupaten Konawe.

Jika berjalan konsisten, gerakan sederhana tersebut berpotensi menjadi salah satu model pengelolaan sampah berbasis sumber yang dapat diperluas ke lingkungan perkantoran pemerintah hingga masyarakat.

Laporan: Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *