oleh

Ketua BK DPRD Kab.Konawe Protes Pembacaan Teks Sejarah Konawe Oleh Protokoler

-Unaaha-1,240 views

SultraOne, Konawe – Peringatan Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-57 Kabupaten Konawe, jumat (3/3/2017). Dua legislator tidak terima atas isi teks sejarah Konawe yang dibacakan oleh protokoler saat upacara tengah berlangsung.

Ketika teks sejarah dibacakan oleh protokoler,Ketua Badan Kehormatan (BK) Ia yang tengah duduk di jajaran anggota DPRD Kab.Konawe keluar dari panggung kehormatan upacara.

Ketika turun dari tribun Ginal menjadi perhatian para undangan yang hadir,ia langsung menghampiri protokoler yang membacakan teks sejarah.Kepada pria berbaju safari itu, Ginal mengatakan kalau teks yang ia bacakan itu tidak lengkap.

Setelah melakukan aksi protes kepada Protokoler Ginal kemudian langsung balik ketribun para awak media langsung menghampiri Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Konawe itu, dengan wajah yang kesal ia pun langsung buka-bukaan.

“Teks sejarah yang dibacakan itu tidak benar. Masa yang ada di buku teks ini (buku sejarah bersampul pink yang telah disusun di DPRD), berbeda dengan buku teks yang dibagi ke undangan, termasuk yang dibacakan (oleh protokoler),” ujarnya.

Ginal menilai, penanggung jawab kegiatan mesti bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Kata dia, beberapa tokoh masyarakat yang nama daerahnya tidak disebutkan dalam sejarah perkembangan Konawe tidak terima atas hal tersebut. Ia menyebut ada unsur kesengajaan dengan hal tersebut yang dilakukan oleh oknum demi menyenangkan pimpinan daerah.

“Ini tokoh masyarakat kita sudah marah-marah,” katanya dengan kesal.
Legislator Golkar itu mengungkapkan, ada beberapa wilayah yang memiliki sejarah Konawe yang tidak disebutkan. Diantaranya, Latoma, Tudaone, Bondoala dan masih ada lagi wilayah lainnya.

“Teks sejarah yang pernah saya susun itu sudah melalui tahap pengkajian. Ada banyak referensi yang kami pakai,” tegasnya sembari memperlihatkan daftar pustaka teks sejarah yang pernah disusun di DPRD.

Selain Ginal, Deny Zainal Ahuddin juga tidak terima atas teks sejarah yang dibacakan. Ia juga menegaskan jika apa yang dibacakan oleh protokoler berbeda dengan apa yang pernah disusun di meja DPRD.

“Yang kami susun itu lain, yang dibacakan juga lain,” tukasnya
Baik Ginal maupun Deny sama-sama sepakat akan membawa masalah tersebut dalam rapat DPRD. Mereka menilai, kalau apa yang terjadi sudah merupakan bagian dalam pelecahan sejarah.(RED/SulrtaOne)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *