oleh

Perkuat Kamtibmas serta Pelestarian Budaya Suku Tolaki,Kapolres Konawe Rangkul Ormas Adat dan Seniman Musik

-Konawe-75 views

SULTRAONE.com.KONAWE – Upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) sekaligus melestarikan kearifan lokal budaya Suku Tolaki terus diperkuat melalui kegiatan silaturahmi dan musyawarah bersama masyarakat adat, organisasi masyarakat (ormas) adat, serta seniman musik pengiring tarian Lulo.

Kegiatan yang berlangsung di Kecamatan Wawotobi, Kabupaten Konawe, Rabu (4/11/2026), tersebut dihadiri langsung Kapolres Konawe, Kasat Binmas Polres Konawe, jajaran Polsek Wawotobi, perwakilan masyarakat adat, serta para pelaku seni dan budaya Tolaki.

Pertemuan ini menjadi ruang komunikasi bersama untuk membangun kesepahaman mengenai pentingnya menjaga ketertiban dalam setiap penyelenggaraan hiburan masyarakat yang diisi dengan tarian tradisional Molulo.

Selain persoalan keamanan, musyawarah tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga nilai-nilai kesopanan, adab, etika, serta keaslian tarian Lulo sebagai salah satu warisan budaya leluhur masyarakat Tolaki.

Ketua Umum Tamalaki Wonua Konawe, Asrif Banasuru, saat dikonfirmasi awak media menjelaskan, terdapat tiga poin utama yang menjadi tujuan pelaksanaan musyawarah tersebut.

Pertama, mengajak seluruh masyarakat, khususnya penggemar tarian Lulo dan para pengiring musik, agar bersama-sama menjaga ketertiban selama berlangsungnya acara hiburan masyarakat.

Menurutnya, setiap orang yang terlibat dalam kegiatan Molulo harus mampu menjaga sikap, kesopanan, serta menghormati orang lain. Jangan sampai kegiatan yang seharusnya menjadi ruang kebersamaan justru menimbulkan tindakan yang merugikan diri sendiri, orang lain, maupun mencederai nilai budaya tarian Lulo.

Asrif juga mengingatkan para seniman musik agar memberikan hiburan secara profesional dan tetap memperhatikan situasi serta suasana acara.

“Kami mengajak seluruh masyarakat yang menyelenggarakan maupun menghadiri acara hiburan dengan tarian Molulo untuk bersama-sama menjaga ketertiban. Para seniman musik juga harus memberikan hiburan dengan cara yang baik sehingga suasana tetap aman, tertib, dan kondusif sampai kegiatan berakhir,” ujarnya.

Kedua, menjaga kelestarian kearifan lokal melalui penerapan adab dan etika bagi seniman musik, khususnya penyanyi yang mengiringi tarian Lulo.

Asrif menegaskan, penyanyi maupun pengiring musik tetap diberikan ruang untuk berekspresi dan menghibur masyarakat. Namun, ekspresi tersebut harus dilakukan dengan memperhatikan norma budaya dan kesopanan masyarakat Tolaki.

Ia menyebut gaya penampilan yang diharapkan adalah gaya yang “BUGAR”, yakni aktif, dinamis, dan penuh semangat, tetapi tetap berada dalam batas kesopanan.

Menurutnya, penampilan penyanyi yang terlalu vulgar, termasuk mempertontonkan goyangan yang tidak sesuai dengan norma budaya hingga meninggalkan panggung yang telah disediakan, perlu menjadi perhatian bersama.

Hal tersebut dinilai dapat mengganggu kenyamanan para penari Lulo, mengubah suasana pertunjukan, serta memberikan tontonan yang kurang pantas bagi anak-anak yang berada di sekitar lokasi kegiatan.

“Silakan bergoyang, karena itu bagian dari ekspresi lagu. Bernyanyi tanpa goyang bagaikan sayur tanpa garam. Tetapi kita harus tahu di mana kita bergoyang dan acara apa yang sedang kita ikuti,” tegas Asrif.

Ia menambahkan, hiburan yang berlangsung dalam kegiatan Molulo bukanlah pertunjukan di tempat hiburan malam, melainkan kegiatan yang mengiringi tarian adat dengan nilai budaya, aturan, adab, dan etika yang harus dihormati.

“Yang kita iringi adalah tarian adat yang memiliki nilai luhur. Karena itu, jangan sampai cara kita menghibur justru menghilangkan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh leluhur. Ini menjadi tantangan bagi kami sebagai pasukan penegak adat untuk menjaga tradisi Tolaki di tengah perkembangan zaman modern,” tambahnya.

Ketiga, Asrif menekankan pentingnya menjaga harga diri dan kehormatan para seniman musik yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari pelaksanaan tarian Lulo.

Menurutnya, keberadaan penari, penyanyi, dan pengiring musik merupakan satu kesatuan dalam tradisi Molulo. Ketiganya memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi sehingga tidak seharusnya ada pihak yang merendahkan atau menjatuhkan martabat pelaku seni.

Ia berharap para seniman musik tetap mendapatkan penghargaan dan perlakuan yang baik dalam menjalankan profesinya, sekaligus mampu menjaga kehormatan diri melalui penampilan yang sesuai dengan nilai budaya masyarakat Tolaki.

“Pengiring tarian Lulo merupakan bagian dari seniman musik yang harus kita jaga harga dirinya. Jangan sampai marwah seorang seniman dijatuhkan dengan tindakan yang tidak pantas. Penari, penyanyi, dan pengiring musik merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam tradisi tarian Lulo,” jelasnya.

Kapolres Konawe Ajak Masyarakat Jaga Kamtibmas

Dalam kegiatan tersebut, aparat penegak hukum (APH) juga mengambil bagian melalui kehadiran Kapolres Konawe, Kasat Binmas Polres Konawe, dan jajaran Polsek Wawotobi.

Kapolres Konawe mengimbau seluruh elemen masyarakat agar berperan aktif menjaga keamanan dan ketertiban setiap kali berlangsung kegiatan hiburan malam yang diisi dengan tarian Molulo.

Ia menekankan bahwa penyelenggaraan hiburan masyarakat harus tetap memperhatikan norma kesopanan dan nilai-nilai budaya Tolaki, serta mematuhi seluruh ketentuan dalam surat izin keramaian yang diterbitkan pihak kepolisian melalui Polsek setempat.

Termasuk di dalamnya ketentuan mengenai batas waktu pelaksanaan kegiatan dan aturan hiburan yang diperbolehkan.

Kapolres juga mengingatkan agar penyelenggara tidak menghadirkan hiburan DJ karena hal tersebut bukan bagian dari tradisi budaya tarian Lulo yang menjadi pembahasan dalam musyawarah tersebut.

Imbauan tersebut diharapkan menjadi perhatian bagi seluruh panitia penyelenggara, tuan rumah, seniman musik, maupun masyarakat yang menghadiri kegiatan hiburan agar tidak terjadi gangguan keamanan dan tindakan yang berpotensi menimbulkan persoalan hukum.

Lembaga Adat Tolaki Dorong Edukasi Generasi Muda

Sementara itu, perwakilan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Adat Tolaki, Altin Timbu, menyampaikan bahwa silaturahmi dan musyawarah tersebut memiliki arti penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama generasi muda, mengenai tanggung jawab bersama dalam menjaga serta melestarikan budaya leluhur.

Menurutnya, tarian Lulo harus tetap dijaga keasliannya tanpa mengurangi maupun menambahkan unsur-unsur yang dapat menghilangkan identitas dan nilai tradisional yang terkandung di dalamnya.

Ia berharap kegiatan semacam ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa pelestarian budaya bukan hanya sebatas mempertahankan bentuk tarian, tetapi juga menjaga tata krama, kesopanan, serta nilai-nilai yang menyertainya.

Dengan demikian, generasi muda dapat mengenal dan memahami bahwa Molulo bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Tolaki yang diwariskan secara turun-temurun.

Panitia Hiburan Diminta Bertanggung Jawab

Melalui musyawarah tersebut, seluruh pihak juga diharapkan memiliki komitmen yang sama dalam menjaga pelaksanaan hiburan tarian Lulo agar berlangsung aman, tertib, dan tetap menjunjung tinggi nilai budaya.

Kepada para seniman musik dan penyanyi pengiring Molulo, Asrif Banasuru mengingatkan agar selalu mengedepankan adab dan etika ketika tampil di hadapan masyarakat.

Sementara itu, kepada panitia penyelenggara atau tuan rumah, ia meminta agar tidak mengarahkan kegiatan hiburan pada hal-hal yang berpotensi memicu keributan maupun tindakan kriminalitas.

Penyelenggara juga wajib mematuhi seluruh ketentuan dalam surat izin keramaian yang diberikan pihak kepolisian, termasuk batas waktu dan aturan pelaksanaan hiburan.

Apabila ketentuan tersebut dilanggar, panitia penyelenggara diminta bertanggung jawab sesuai ketentuan hukum positif maupun hukum adat yang berlaku.

Melalui silaturahmi antara Kapolres Konawe, masyarakat adat, Tamalaki Wonua Konawe, Lembaga Adat Tolaki, dan para seniman musik ini, diharapkan terbangun sinergi yang berkelanjutan antara aparat keamanan dan masyarakat.

Sebab, menjaga keamanan dan melestarikan budaya merupakan tanggung jawab bersama. Tarian Lulo harus tetap menjadi ruang pemersatu masyarakat, tempat mempererat persaudaraan, serta menjadi kebanggaan identitas budaya Suku Tolaki bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

Laporan : Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *