oleh

Jelang Penilaian Adipura, DLH Konawe Gaspol GIA, TPA hingga TPS Liar Jadi Sasaran Pembersihan

-Konawe-128 views

SULTRAONE.com.KONAWE – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, terus mengintensifkan kegiatan Gerakan Indonesia Asri (GIA) menjelang pelaksanaan penilaian Adipura. Sejumlah titik strategis menjadi sasaran aksi kebersihan, mulai dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Mataiwoi, ruas jalan menuju TPA, kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH), hingga tempat pembuangan sampah (TPS) liar di Kelurahan Asinua.

Kegiatan tersebut melibatkan jajaran DLH Konawe dengan pembagian tugas berdasarkan bidang, unit pelaksana teknis, serta kelompok Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), baik Paruh Waktu (PW) maupun Penuh Waktu (FW).

Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebersihan lingkungan di sejumlah titik penilaian tetap terjaga, sekaligus memperkuat upaya pemerintah daerah dalam membangun budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala DLH Konawe, Syahrul, S.KM., M.M., menegaskan bahwa kegiatan GIA merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas kebersihan dan penataan lingkungan di Kabupaten Konawe.

Menurutnya, persiapan menghadapi penilaian Adipura tidak cukup hanya dengan membersihkan kawasan tertentu, tetapi harus dilaksanakan secara terencana, menyeluruh, dan melibatkan seluruh unsur yang memiliki tanggung jawab terhadap pengelolaan lingkungan.

“Gerakan Indonesia Asri harus menjadi gerakan bersama. Seluruh jajaran DLH Konawe memiliki tanggung jawab untuk memastikan lingkungan tetap bersih, drainase berfungsi dengan baik, serta sampah tidak berserakan di jalan maupun di kawasan fasilitas umum,” ujar Syahrul.

Ia menekankan, pembagian lokasi kerja kepada masing-masing bidang dan kelompok petugas dilakukan agar kegiatan pembersihan berjalan lebih efektif dan terarah.

Syahrul juga mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi kebersihan, bukan hanya ketika penilaian Adipura berlangsung, tetapi juga dalam aktivitas pelayanan lingkungan sehari-hari.

“Yang kita harapkan bukan sekadar kawasan terlihat bersih saat penilaian. Kebersihan harus terus dipelihara dan menjadi kebiasaan bersama. Karena itu, seluruh personel harus bekerja sesuai pembagian tugas dan memastikan titik yang menjadi tanggung jawabnya benar-benar tertangani,” tegasnya.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan GIA adalah kawasan TPA Mataiwoi. Pada titik ini, kegiatan difokuskan pada pembersihan gulma, drainase di sekeliling area landfill, serta sampah yang berada di sekitar lokasi penimbunan.

Selain itu, penataan kawasan depan pintu masuk TPA juga menjadi bagian dari kegiatan. Penanganan terkait pemindahan rumah pemulung yang berada di depan pintu masuk dikoordinasikan melalui intervensi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) bersama UPTD Laboratorium sesuai pembagian tugas kegiatan.

Pembersihan kawasan TPA menjadi perhatian penting karena area tersebut merupakan bagian dari sistem pengelolaan sampah daerah yang membutuhkan penataan dan pemeliharaan secara berkelanjutan.

Tidak hanya area landfill, DLH Konawe juga menyasar ruas jalan dari pintu gerbang TPA di poros Mataiwoi menuju kawasan TPA.

Pada jalur tersebut, kegiatan difokuskan pada pembersihan drainase dan bahu jalan dari sampah serta gulma, mulai dari pintu gerbang hingga batas lahan TPA di sekitar jembatan timbang.

Penanganan ruas jalan tersebut dilaksanakan melalui intervensi Bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), sesuai pembagian tugas yang telah ditetapkan.

Pembersihan jalur masuk TPA dinilai penting untuk mendukung penataan kawasan sekaligus menjaga agar sampah dan tumbuhan liar tidak mengganggu kebersihan bahu jalan maupun saluran drainase.

Selain kawasan TPA, kegiatan GIA juga menyasar area ICP R2 dan R3. Pada area ICP R2, penanganan dilakukan oleh Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas (PSLB3), dengan melibatkan kelompok PPPK Paruh Waktu serta kelompok Rentes PPPK PW.

Kegiatan di lokasi tersebut difokuskan pada pembersihan gulma, sampah, dan tumpukan daun yang berpotensi mengganggu kebersihan lingkungan maupun saluran drainase.

Sementara itu, area R3 ditangani oleh Bidang PSLB3 dengan melibatkan kelompok PPPK Penuh Waktu. Pembagian wilayah kerja dilakukan untuk memperluas jangkauan pembersihan dan memastikan setiap titik yang menjadi sasaran kegiatan dapat ditangani secara terarah.

Untuk kelompok PPPK Penuh Waktu, pembagian tugas dimulai dari dua titik utama.

Kelompok 1 hingga kelompok 5 melaksanakan kegiatan pembersihan dari simpang Kantor DPRD Konawe menuju kawasan TK H. Azis.

Adapun kelompok 6 hingga kelompok 10 memulai kegiatan dari simpang ICP, tepatnya di bagian belakang lapangan basket.

Pembagian tersebut dimaksudkan untuk mengoptimalkan tenaga petugas di lapangan sehingga pembersihan dapat menjangkau lebih banyak area dalam waktu yang bersamaan.

Kegiatan meliputi pembersihan sampah yang berserakan, pengendalian gulma, serta penataan lingkungan pada titik-titik yang menjadi tanggung jawab masing-masing kelompok.

Tidak hanya berfokus pada kawasan TPA dan ruang terbuka hijau, jajaran Sekretariat DLH Konawe juga diarahkan untuk menangani persoalan sampah di lokasi lain.

Berdasarkan arahan pimpinan DLH Konawe, kelompok Sekretariat melaksanakan kegiatan di tempat pembuangan sampah liar yang berada di Kelurahan Ambekairi

Penanganan TPS liar menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi titik-titik penumpukan sampah yang berpotensi mengganggu kebersihan lingkungan dan kenyamanan masyarakat.

Keberadaan lokasi pembuangan sampah yang tidak sesuai peruntukannya membutuhkan penanganan lapangan, disertai peningkatan kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.

Melalui kegiatan tersebut, DLH Konawe berupaya memperluas jangkauan aksi GIA agar tidak hanya terkonsentrasi di kawasan pusat kota atau lokasi yang menjadi perhatian penilaian, tetapi juga menyasar titik-titik yang berpotensi menjadi sumber persoalan kebersihan.

Kepala Bidang Kebersihan, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas DLH Konawe, Ir. Ridwan Tabara, ST., M.Si., menjelaskan bahwa pembagian tugas berdasarkan bidang dan kelompok merupakan bagian dari pengorganisasian kegiatan kebersihan di lapangan.

Menurutnya, setiap kelompok perlu memahami lokasi kerja dan jenis penanganan yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga pelaksanaan GIA dapat berjalan lebih efektif.

“Setiap kelompok sudah diarahkan ke lokasi masing-masing. Fokus kegiatan bukan hanya mengangkat sampah yang terlihat, tetapi juga membersihkan gulma, saluran drainase, bahu jalan, serta bagian-bagian lingkungan yang membutuhkan penanganan,” ujar Ridwan.

Ia menjelaskan, pembersihan drainase dan bahu jalan menjadi perhatian karena sampah, daun, serta gulma yang dibiarkan menumpuk dapat mengurangi kualitas kebersihan kawasan.

Karena itu, menurut Ridwan, kegiatan GIA perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi riil di lapangan dan kebutuhan penanganan pada setiap titik.

“Penataan lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh. Kawasan TPA, akses jalan menuju TPA, area ICP, ruang terbuka hijau, hingga lokasi pembuangan sampah liar perlu mendapat perhatian sesuai kondisi masing-masing,” jelasnya.

Ridwan juga menekankan bahwa keberhasilan menjaga kebersihan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya petugas yang dikerahkan, tetapi juga oleh konsistensi pelaksanaan kegiatan dan pemeliharaan kawasan setelah pembersihan dilakukan.

Ia berharap, keterlibatan seluruh unsur DLH Konawe dalam GIA dapat memperkuat kesiapan daerah menghadapi penilaian Adipura sekaligus membangun lingkungan yang lebih tertata.

Pelaksanaan GIA menjelang penilaian Adipura menjadi momentum bagi DLH Konawe untuk memperkuat koordinasi internal sekaligus meningkatkan perhatian terhadap kebersihan di berbagai titik strategis.

Pembersihan kawasan TPA Mataiwoi, penataan akses jalan, pemeliharaan drainase, pengendalian gulma di kawasan ICP, serta penanganan TPS liar merupakan rangkaian kegiatan yang diarahkan untuk mendukung pengelolaan lingkungan secara lebih baik.

Namun, upaya tersebut membutuhkan kesinambungan agar hasil pembersihan tidak hanya bersifat sementara. Pemeliharaan fasilitas umum, pengelolaan sampah yang tepat, serta partisipasi masyarakat tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kebersihan lingkungan.

DLH Konawe pun diharapkan terus memperkuat kolaborasi dengan perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta masyarakat dalam mendukung Gerakan Indonesia Asri.

Dengan pelaksanaan kegiatan yang terarah dan berkelanjutan, persiapan menuju penilaian Adipura diharapkan tidak hanya berdampak pada penataan kawasan yang menjadi sasaran, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya hidup bersih di Kabupaten Konawe.

Bagi pemerintah daerah, kebersihan bukan sekadar kebutuhan saat menghadapi penilaian, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan bagi masyarakat Konawe.

Laporan : Mahmud

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *