SULTRAONE.com.JAKARTA – Enam siswi SMA Negeri 4 Kendari mencatatkan pengalaman membanggakan dengan tampil dalam Tarian Kolosal di Istana Negara, Jakarta, dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Keenam siswi tersebut yakni Alizah Al Rabilla, Mutya Naora Janiqa, Alisyah Arafat, Dea Putri Anjani Lambe, Waode Afla Aqila Chrisna, dan Alysha Artanti Putriwati Djafar.
Kehadiran mereka di panggung nasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sulawesi Tenggara.
Bukan hanya membawa nama sekolah dan Kota Kendari, keenam pelajar tersebut juga menjadi bagian dari generasi muda yang memperkenalkan talenta seni daerah di tingkat nasional.
Mereka tergabung bersama 20 remaja putri asal Kota Kendari yang menjadi peserta Tarian Kolosal di Istana Negara. Para penari tersebut merupakan anggota salah satu sanggar tari asal Kota Kendari.
Namun, di balik kebanggaan tersebut, terdapat cerita tentang perjuangan para penari untuk bisa tampil di panggung nasional.
Keberangkatan rombongan dilakukan secara mandiri dengan biaya pribadi. Menurut salah satu orang tua penari, Jafrun, S.H., para remaja putri tersebut tetap berangkat karena memiliki kemauan kuat untuk tampil dan membawa nama daerah, meskipun tidak mendapatkan dukungan pembiayaan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.
“Mereka berangkat atas kemauan sendiri dan membiayai diri mereka sendiri selama berada di Jakarta. Mereka membawa nama Kota Kendari dan Sulawesi Tenggara,” kata Jafrun.
Menurut Jafrun, kesempatan tampil di Istana Negara bukanlah hal biasa. Para penari mendapatkan pengalaman berharga sekaligus kesempatan menunjukkan bahwa anak-anak muda Sulawesi Tenggara memiliki kemampuan dan talenta yang mampu bersaing hingga panggung nasional.
Karena itu, ia berharap perjuangan tersebut mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kota Kendari dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.
Jafrun secara khusus berharap Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka (ASR) dapat memberikan dukungan moril dan apresiasi kepada para penari tersebut.
“Saya selaku orang tua penari berharap ada kepedulian dari Wali Kota Kendari dan Gubernur Sultra untuk menyambut kepulangan para remaja putri Sultra. Mereka telah memberikan tenaga dan kemampuan untuk mengharumkan nama daerah,” pintanya.
Ia menilai, bentuk apresiasi pemerintah tidak harus selalu berupa dukungan materi. Sambutan, perhatian dan penghargaan secara moril juga dinilai penting sebagai bentuk pengakuan atas perjuangan anak-anak daerah yang telah membawa nama Sultra ke tingkat nasional.
Apalagi, para penari tersebut harus menanggung sendiri berbagai kebutuhan selama berada di Jakarta.
Jafrun mengungkapkan, pihak pengelola sanggar tari sebelumnya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mengenai keberangkatan para penari.
Namun, berdasarkan hasil koordinasi tersebut, tidak tersedia anggaran untuk mendukung keberangkatan karena pemerintah tengah melakukan efisiensi anggaran.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para penari.
Mereka tetap berangkat dengan biaya mandiri demi memenuhi kesempatan tampil dalam Tarian Kolosal di Istana Negara sekaligus menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Pulang ke Kendari 19 Agustus
Usai mengikuti rangkaian kegiatan di Jakarta, sebanyak 20 remaja putri tersebut dijadwalkan kembali ke Kota Kendari pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Kepulangan tersebut diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memberikan perhatian dan apresiasi kepada para penari.
“Kami berharap ada penyambutan dan apresiasi kepada mereka ketika tiba di Kendari. Mereka sudah membawa nama daerah sampai ke tingkat nasional,” ujar Jafrun.
Menurutnya, perhatian pemerintah akan memberikan dampak positif bagi perkembangan seni dan budaya di Sulawesi Tenggara.
Apresiasi terhadap para penari juga diyakini dapat menjadi motivasi bagi generasi muda lainnya agar tidak ragu mengembangkan bakat di bidang seni, budaya, olahraga maupun bidang lainnya.
20 Penari Asal Kendari
Adapun 20 remaja putri asal Kota Kendari yang mengikuti Tarian Kolosal di Istana Negara yakni:
Alizah Al Rabilla
Madinah Fahkrini Bahtiar
Asyifa Nur Aisyah
Alisyah Arafat
Aura Salsabila Budiana
Dea Putri Anjani Lambe
Earlyta Arsyfa Wardhana Putri
Waode Afla Aqila Chrisna
Izzah Faranida El Haq
Jehan Nabilla
Layla Rachyan Puteri
Syaikah Nur Sakhi Ahmad
Mutya Naora Janiqa
Sofiyana Adilla Puteri
Felya Nurul Syafira D
Zayyanah Dzatil Izzah
Mutia Kamila Thahir
Alysha Artanti Putriwati Djafar
Sifa Reski Cahyati
Dwi Asri Viana
Khusus enam di antaranya merupakan siswi SMA Negeri 4 Kendari, yakni Alizah Al Rabilla, Mutya Naora Janiqa, Alisyah Arafat, Dea Putri Anjani Lambe, Waode Afla Aqila Chrisna dan Alysha Artanti Putriwati Djafar.
Keikutsertaan mereka menjadi bukti bahwa generasi muda Sulawesi Tenggara memiliki potensi besar untuk tampil di panggung nasional.
Kini, harapan para orang tua dan penari tertuju kepada pemerintah daerah agar perjuangan tersebut tidak hanya menjadi cerita kebanggaan sesaat, tetapi juga mendapat perhatian nyata sebagai bentuk dukungan terhadap generasi muda dan pelestarian seni budaya Sulawesi Tenggara.
Bagi Jafrun, tampilnya 20 remaja putri Kendari di Istana Negara seharusnya menjadi kebanggaan bersama.
“Semoga pemerintah melihat perjuangan mereka. Mereka membawa nama Kendari dan Sultra di panggung nasional. Dukungan moril dari pemerintah tentu akan sangat berarti bagi mereka,” pungkasnya.
Laporan : Redaksi









Komentar