oleh

TAMALAKI Wonua Konawe Siapkan Generasi Tangguh dan Berbudaya Melalui Dikladsar XVIII

-Konawe-142 views

SULTRAONE.com.KONAWE – Organisasi masyarakat adat TAMALAKI Wonua Konawe (TWK) kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga nilai-nilai budaya serta memperkuat kaderisasi generasi muda melalui kegiatan Didikan dan Latihan Dasar (Dikladsar) Angkatan XVIII yang diikuti sebanyak 28 peserta.

Kegiatan tersebut digelar di Kelurahan Nohu-Nohu, Kecamatan Wawotobi, Kabupaten Konawe, Selasa (21/04/2026), dan berlangsung khidmat serta penuh semangat kebersamaan.

Dikladsar ini menjadi salah satu agenda penting TWK dalam membentuk karakter anggota baru agar memiliki jiwa kepemimpinan, kedisiplinan, loyalitas organisasi, serta pemahaman mendalam terhadap sejarah dan budaya masyarakat Tolaki.

Acara pembukaan dihadiri langsung sejumlah tokoh penting organisasi dan masyarakat. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Umum TWK Asrif Banasuru, Lurah Nohu-Nohu, Sekretaris Jenderal TWK Bram, Dewan Penasihat TWK Salimin, Ketua DPD Barataihana TWK Menwa, serta Dewan Pembina Hanibal Hamiaso.

Ketua Umum TWK Tekankan Persatuan dan Pelestarian Budaya

Dalam sambutannya, Ketua Umum TWK Asrif Banasuru menegaskan bahwa tujuan utama organisasi TWK adalah menjaga persatuan masyarakat, membina generasi muda, serta menjadi garda terdepan dalam melestarikan adat istiadat Tolaki di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

Menurutnya, generasi muda memiliki peran besar dalam menjaga eksistensi budaya daerah agar tidak hilang ditelan arus globalisasi.

Ia juga menyoroti pentingnya penggunaan bahasa Tolaki dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, bahasa daerah merupakan identitas utama suatu suku yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Bahasa Tolaki harus tetap digunakan dalam keseharian. Jika bahasa hilang, maka sebagian identitas budaya juga akan ikut hilang,” tegas Asrif.

Pernyataan tersebut mendapat sambutan hangat dari peserta dan masyarakat yang hadir.

Peserta Dibekali Sejarah Leluhur Tolaki

Sementara itu, Dewan Pembina TWK Hanibal Hamiaso memberikan pemaparan sejarah yang menambah wawasan para peserta.

Ia menjelaskan tentang Tusawuta, yang merupakan bagian dari struktur Siwole Batahu Pitu Dulabatu, sistem pemerintahan dan wilayah adat masyarakat Tolaki pada masa lampau.

Menurut Hanibal, Tusawuta merupakan salah satu perangkat kerajaan pada masa pemerintahan Sangia Inato sekitar abad ke-17. Pengetahuan sejarah seperti ini sangat penting diberikan kepada peserta agar generasi muda mengetahui akar budaya, sistem pemerintahan, dan kebesaran peradaban leluhur mereka.

“Anak muda harus tahu dari mana asalnya, bagaimana leluhurnya membangun tatanan masyarakat, agar rasa bangga terhadap budaya sendiri terus tumbuh,” ujarnya.

Materi Kepemimpinan dan Mentalitas Organisasi

Selain pembekalan sejarah, kegiatan Dikladsar Angkatan XVIII ini juga diisi dengan berbagai materi penting, di antaranya:

Kedisiplinan dan loyalitas anggota
Penguatan mental dan karakter
Nilai-nilai adat serta budaya lokal
Semangat persatuan dan pengabdian masyarakat

Para peserta tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Mereka mengikuti sesi materi, diskusi, hingga latihan kedisiplinan dengan penuh semangat.

Sejumlah peserta mengaku bangga bisa menjadi bagian dari Dikladsar TWK karena selain menambah pengalaman organisasi, kegiatan tersebut juga membuka wawasan tentang sejarah budaya Tolaki.

Ditutup Dengan Lulo Bersama Warga
Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, TWK bersama peserta dan warga setempat melaksanakan Lulo bersama sebagai simbol persaudaraan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap budaya lokal.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan tampak mewarnai penutupan kegiatan tersebut. Warga yang hadir ikut larut dalam kebersamaan, menunjukkan bahwa TWK tidak hanya menjadi organisasi kaderisasi, tetapi juga pemersatu masyarakat.

Dengan terselenggaranya Dikladsar Angkatan XVIII ini, TAMALAKI Wonua Konawe diharapkan terus menjadi wadah pembinaan generasi muda yang cinta budaya, memiliki semangat persatuan, serta siap menjaga warisan leluhur untuk masa depan.

Keberadaan TWK dinilai penting sebagai benteng pelestarian adat Tolaki sekaligus ruang pendidikan karakter bagi generasi muda di Kabupaten Konawe.

Penulis : Mahmud Tahir

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *