oleh

Ketua Komisi II DPRD Konawe Apresiasi Gerak Cepat Bupati Jawab Keluhan Petani Desa Asipako Kec.Asinua

SULTRAONE.com.KONAWE – Pemerintah Kabupaten Konawe kembali menunjukkan respons cepat dalam menjawab keluhan masyarakat. Kali ini, persoalan kekurangan air yang dialami petani sawah di Desa Asipako, Kecamatan Asinua, langsung ditangani melalui kerja sama antara Pemkab Konawe dan Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Kendari.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Konawe, Eko, menjelaskan bahwa solusi jangka pendek telah direalisasikan dengan menurunkan bantuan kawat bronjong sebanyak 50 lembar lengkap dengan material batu. Bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara BWS IV Kendari dan Pemerintah Kabupaten Konawe.

“BWS IV Kendari menurunkan 50 lembar kawat bronjong, sementara Pemerintah Kabupaten Konawe membantu penyediaan batu sekaligus pemasangan kawat bronjong tersebut. Ini bentuk kerja sama nyata untuk menjawab persoalan petani kita di Desa Asipako,” ujar Eko.

Selama ini, kata Eko, para petani di Desa Asipako terpaksa membendung aliran air secara manual dengan menggunakan turap dari kayu agar air bisa masuk ke area persawahan. Namun, metode tersebut tidak mampu bertahan lama.

“Turap kayu yang dibuat petani itu sangat rentan. Sekali hujan deras dengan arus kuat, turap langsung tersapu bersih. Akibatnya, air tidak bisa lagi terbendung dan tidak masuk ke bendung sadap yang menjadi harapan petani untuk mengairi sawah mereka,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat sebagian besar lahan pertanian tidak dapat dikelola secara optimal. Dari total potensi sawah seluas 220 hektare di Desa Asipako, baru sekitar 112 hektare yang bisa digarap. Sisanya, sekitar 108 hektare, belum bisa dimanfaatkan maksimal akibat keterbatasan pasokan air.

Melihat kondisi itu, Pemerintah Kabupaten Konawe mengambil langkah cepat sebagai solusi jangka pendek dengan pemasangan kawat bronjong. Diharapkan,kawat bronjong tersebut mampu menahan aliran air dan mengarahkan air masuk ke bendung sadap sehingga kebutuhan air petani dapat terpenuhi.

“Insyaallah, dengan kawat bronjong ini air bisa dibendung dan dialirkan ke area persawahan. Ini solusi jangka pendek yang langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh petani,” kata Eko.

Tak hanya berhenti pada solusi sementara, Pemkab Konawe juga telah menyiapkan langkah jangka panjang berupa pembangunan bendungan permanen di Desa Asipako. Rencana tersebut telah disusun oleh Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Konawe melalui bidang teknis yang dipimpin Ali Imran.

Namun, pembangunan bendungan tersebut masih terkendala status kawasan lokasi yang direncanakan. Saat ini, Pemkab Konawe melalui SDA tengah menyusun dan melengkapi dokumen permohonan Izin Penggunaan Kawasan Hutan (IPPKH).

“Langkah-langkah administrasi sudah dilakukan. Dokumen permohonan IPPKH sedang disusun. Insyaallah, jika izin tersebut sudah terbit, Kabupaten Konawe siap mengalokasikan anggaran untuk membangun bendungan itu,” tegasnya.

Jika bendungan permanen tersebut terealisasi, Eko optimistis seluruh potensi sawah di Desa Asipako seluas 220 hektare dapat beroperasi secara maksimal dan memberi dampak besar bagi peningkatan produksi pertanian dan kesejahteraan petani.

Respons cepat Bupati Konawe juga mendapat apresiasi luas dari masyarakat. Menurut Eko, jarak waktu antara keluhan masyarakat hingga turunnya bantuan kawat bronjong hanya sekitar tiga hingga empat hari.

“Masyarakat sangat berterima kasih kepada Bupati Konawe. Bayangkan, keluhan disampaikan, tidak sampai seminggu bantuan sudah turun. Ini bukti kepemimpinan yang responsif dan berpihak kepada petani,” pungkasnya.

Dengan terealisasinya solusi jangka pendek dan kesiapan rencana jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Konawe menegaskan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan serta optimalisasi potensi pertanian daerah, khususnya di wilayah pedesaan seperti Desa Asipako, Kecamatan Asinua.(Red/SO)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *