Make Image responsive
by

Emansipasi Wanita Di Era Milenial

Penulis : Fitry (Sekertaris Umum KOHATI HMI Cabang Konawe)

Berbicara soal emansipasi wanita tidak dapat di pisahkan dari sosok Raden Adjeng (RA) Kartini yang menggugat emansipasi atas perbedaan hak pria dan wanita.

Emansipasi yang di maksudkan adalah agar wanita di akui kecerdasannya dan di berikan kesempatan yang sama untuk mengaplikasikan keilmuan yang dimilikinya, sehingga wanita tidak merendahkan diri dan tidak selalu di rendahkan derajatnya oleh kaum pria.

Sejak dulu kaum wanita sering kali di tempatkan di posisi belakang, wanita tak boleh melampaui pria. Padahal, wanita memiliki hak bahkan untuk menjadi seorang pemimpin. Satu hal yang membedakan antara pria dan wanita adalah kodrat. Wanita kodratnya adalah hamil, melahirkan dan punya anak. Yang tentu saja hal itu tidak bisa di lakukan oleh pria.

Seperti yang di ketahui emansipasi merupakan istilah yang di gunakan untuk untuk menjelaskan usaha-usaha untuk mendapatkan persamaan hak politik, kesetaraan gender, serta persamaan hak dalam bidang lainnya.

Islam memandang laki-laki dan wanita dalam posisi yang sama, tanpa ada perbedaan. Namun yang perlu digaris bawahi adalah kodrat sebagai perempuan dan laki-laki.

Pandangan islam memandang keadilan antara laki-laki dan wanita, bukan kesetaraan. Konsep kesetaraan bertolak belakang dengan prinsip keadilan, karena adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Sementara kesamaan adalah menyetarakan antara dua hal tanpa adanya perbedaan.

Perempuan adalah perempuan, dan pria adalah pria. Pujian adalah hal yang menarik bagi setiap perempuan, terlebih lagi jika pujian itu datangnya dari kaum adam. Perempuan mana yang tidak mau dikatakan cantik atau menarik ? tidak sedikit wanita rela melakukan banyak hal demi memanen pujian dari para lelaki. Setiap wanita tentu saja menyukainya meski sebagian pandai menyembunyikan rasa sukanya.

Perempuan tak lebih dari sekedar boneka, yang akan di puji ketika terlihat manis, lucu, dan cantik. Akan tetapi akan di gunjingkan jika terlihat sangat berantakan. Sebagai perempuan, mereka hanya memperhatikan baju apa yang mereka pakai , sepatu apa yang mereka kenakan, dan bagaimana penampilan mereka di muka umum. Padahal sudah jelas Soe Hok Gie seorang aktivis Indonesia Tionghoa yang lahir pada Tanggal 17 Desember 1942 dan meninggal dunia pada umur 26 tahun di gunung Semeru menyatakan bahwa ” Wanita akan selalu di bawah tingkat laki-laki bila yang di urusi hanya baju dan kecantikan “.

Seiring dengan perkembangan zaman , semakin banyak emansipasi wanita yang sudah mulai dapat di rasakan. Hanya saja kebanyakan perempuan masih belum paham bagaimana cara menerapkannya. Akhirnya, emansipasi wanita kita sudah mulai pergeseran makna.

Ketika wanita memiliki keberanian untuk bermimpi dan mewujudkannya serta mampu mengaplikasikan dan tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain , itulah merupakan salah satu wujud dari emansipasi, lainnya juga bisa di lakukan dengan berbuat baik kepada orang lain dan menghargai apa yang di miliki sebagai bentuk rasa syukur kepada anugerah yang di berikan Tuhan. Namun sebaiknya berbuat baik jangan di lakukan dengan setengah hati, terlebih lagi jika tidak memiliki semangat daya juang yang tinggi.

Sekarang, kita sudah bisa melihat kemajuan para perempuan Indonesia dalam satu indikasi atau pekerjaan yang hanya di duduki oleh kaum lelaki sudah banyak di duduki oleh kaum perempuan juga. Berbagai pekerjaan atau jabatan mulai dari Pegawai Negeri/Swasta, Pilot, Pengacara, Notaris, Dokter, Direktur, Mentri bahkan sampai jabatan Presiden sudah banyak di perankan oleh perempuan Indonesia. Dengan prestasi-prestasi itulah kaum perempuan sekarang bisa menandingi kemampuan dan berbagai kegiatan yang dimiliki kaum pria.

Beberapa perempuan Indonesia sudah membuktikan kepada bangsa bahwa mereka mampu memegang perang penting dalam membangun bangsa. Salah satu dari mereka adalah Mari Elka Pangestu seorang ekonom Indonesia kelas dunia. Kita juga mengenal Susi Susanti yang sudah mengharumkan nama Indonesia dalam bidang olahraga (bulu tangkis), beliau adalah peraih piala emas Olimpiade Barcelona pada tahun 2002, kemudian Sosok yang masih tergambar jelas di hati rakyat adalah mantan presiden kelima kita yaitu Megawati Soekarnoputri, Mereka semua adalah pelaku emansipasi perempuan. Mereka memanfaatkan jasa Raden Ajeng Kartini tersebut untuk membekali diri mereka sendiri dengan keahlian, pengetahuan, dan wawasan berfikir yang luas. Mereka mencari dan menggali potensi mereka tanpa menuntut selalu diistimewakan sebagai perempuan.

Melalui gerakan emansipasi, perempuan Indonesia akhirnya dapat mensejajarkan diri dengan kaum pria dalam berbagai bidang kehidupan. Perempuan tidak hanya bekerja di lingkungan rumah ataupun melayani suami walaupun hal tersebut adalah salah satu kewajiban perempuan mengikuti kodratnya. Perempuan juga dapat berperan di ranah Politik, Ekonomi dan Sosial.

Di era millenial saat ini, kebudayaan barat telah masuk dalam berbagai aspek kehidupan, peradaban pun telah mengarah ke barat. Globalisasi tentu saja berdampak pada pola pemikiran serta pola kehidupan masyarakat Indonesia. Kaum wanita di arahkan dalam kehidupan yang bermewah-mewah karena tuntutan zaman.

Sebagian masyarakat di manjakan kecanggihan alat-alat elektronik masa kini, hingga trend menjadi kebutuhan masyarakat khususnya wanita. Dengan gaya hidup wanita di era globalisasi ini, sebagian wanita tidak memahami peran dan posisinya dalam masyarakat, ada juga yang lupa akan sejarah perjuangan wanita dan ada pula wanita hidup dengan kebebasan yang seluas-luasnya. Perempuan di era millenial banyak yang terlena dan terombang ambing dan semakin mewarnai dan meracuni bangsa. Tidak sedikit efek dari globalisasi ini berpengaruh negatif sehingga tidak menutup kemungkinan partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa pada masa mendatang tidak dapat berjalan, sehingga tidak ada pembuktian bahwa perempuan mampu berdiri membangun bangsa. Bahkan, persoalan ini apabila di biarkan dan tidak ada usaha untuk melakukan perbaikan akan dapat menciptakan generasi muda yang tidak memiliki masa depan yang pasti.

Tidak hanya dalam kehidupan masyarakat, dalam ruang lingkup kehidupan wanita yang menyandang gelar sebagai mahasiswi juga tidak jauh berbeda dengan pola kehidupan masyarakat secara umum. Masih banyak mahasiswi yang apatis terhadap permasalahan-permasalahan di lingkungan sekiar atau yang biasa kita sebut mahasiswi anti sosial.

Di era millenial ini, ada wanita dengan gelar mahasiswi yang semakin di manjakan media sosial, padahal dengan di manjakan media sosial tentu saja secara otomatis akan menyita waktu bagi seorang penggunanya. Kemudian ada pula mahasiswi yang takut berekspresi dalam forum kajian keperempuanan. Misalnya, masih banyak diantara mereka yang takut mengekspresikan dirinya dalam sebuah forum milik bersama tersebut. Kaum wanita yang menyandang gelar mahiswi tersebut merasa belum merdeka meskipun telah ada emansipasi wanita. Mereka bagai macan di luar akan tetapi jika di dalam forum mereka di ibaratkan putri malu. Dox yang sering muncul dalam masyarakat adalah tong kosong.

Karena dalam masyarakat, sesorang yang telah menyandang gelar mahasiswa ialah seseorang yang menguasai di bidang pendidikan serta sosialnya. Namun realita yang terjadi terhadap mahasiswa masa kini tidak memahami bidang pendidikannya sendiri yang menjadi focus pendidikan dalam perkuliahan.

Kaum perempuan tidak boleh melupakan hakikatnya sebagai seorang perempuan yang mempunyai sumber kelembutan. Sudah selayaknya kaum perempuan menyadari akan kodratnya, sebab kaum perempuan diharapkan bisa menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anak yang dilahirkannya. Itulah sebenarnya peran wanita yang utama selain berbagai peran di ketiga bidang kehidupan. Wanita telah menjadi sosok yang harus di hormati dan dilindungi dari berbagai kekerasan dan penganiayaan, namun wanita harus sadar akan tugas utamanya. Tugas ini mampu untuk menyadarkan perempuan generasi muda untuk menjadi perempuan yang terhormat, berharga dan sebagai kebanggaan bangsa.

Untuk menjadi sosok seperti Raden Adjeng Kartini, perempuan Indonesia harus dapat menunjukkan prestasinya di segala bidang. agar mereka tidak di pandang sebelah mata, wanita Indonesia harus dapat menjadi inspirator bagi wanita di seluruh dunia. agar martabat wanita di dunia tidak lagi di remehkan.

Make Image responsive
Make Image responsive

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA TERKINI